Monthly Archives: July 2013

Manajemen Terpadu Balita Sakit ( MTBS )

Standard

LATAR BELAKANG

  • Berdasarkan beberapa hasil penelitian, disebutkan bahwa di negara berkembang setiap tahun terjadi 12 juta kematian anak bawah lima tahun. 
  • Hampir 70 % penyebab kematian tersebut disebabkan oleh lima penyakit yaitu pneumonia, diare, malaria, campak, dan masalah gizi buruk.

STRATEGI MTBS

  • Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus
  • Memperbaiki dan meningkatkan dukungan sistem kesehatan
  • Meningkatkan kemampuan  keluarga & masyarakat dalam home care dan care seeking

Manajemen Terpadu Balita Sakit  ( MTBS ) adalah manajemen untuk menangani balita sakit yang bersifat terpadu yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan ( Depkes, 2000).

Terpadu berarti mencari dan mengobati dengan dipandu buku bagan MTBS untuk beberapa penyakit yang menyebabkan kematian bayi dan balita seperti pneumonia, diare, malaria, campak, gizi buruk dan masalah lainnya ke dalam satu episode pemeriksaan. Dimulai dari penilaian berupa pemeriksaan gejala dan tanda-tanda yang muncul, pembuatan klasifikasi, pemberian tindakan dan kemudian diakhiri dengan melakukan konseling.

INTERVENSI MTBS

  1. Kuratif
  2. Preventif
  3. Promotif

PROGRAM YANG TERLIBAT :

  • Gizi / nutrisi
  • Imunisasi
  • Pencegahan penyakit
  • Promosi tumbuh kembang
  • Tatalaksana kasus
  • Kesehatan Ibu

INDIKATOR MTBS
Menurut WHO dan UNICEF (1999), terdapat beberapa indikator pelaksanaan MTBS, antara lain indikator ketrampilan petugas, dukungan manajemen, dan indikator tingkat kepuasan pengantar terhadap pelayanan yang diberikan.

Indikator ketrampilan petugas, terdiri dari :

kemampuan untuk menilai empat tanda bahaya, pemeriksaan batuk, diare, dan demam, pemeriksaan berat badan dibandingkan dengan KMS, pemeriksaaan status imunisasi, menanyakan kepada pengantar terkait pemberian ASI dan makanan tambahan, memberikan terapi yang benar. Juga parameter konseling yang meliputi penentuan waktu merujuk, pemberian terapi antibiotika oral yang diresepkan secara benar, pemberian nasehat untuk memberi cairan tambahan dan meneruskan memberi makan, pemberian imunisasi yang dibutuhkan sebelum meninggalkan tempat pelayanan, dan pemberian pemahaman kepada pengantar tentang cara memberikan obat kepada anak sesuai petunjuk yang diberikan petugas.

Indikator adanya dukungan sistem kesehatan antara lain meliputi :

aspek supervisi dan observasi penanganan kasus dalam enam bulan terakhir, aspek ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan meliputi ketersediaan obat-obatan esensial, kecukupan obat injeksi dalam pertolongan sebelum dirujuk, kecukupan peralatan dan jenis vaksin yang dibutuhkan, serta aspek cakupan pelatihan MTBS.

Indikator kepuasan ibu balita atau pendampingnya, meliputi :

indikator gizi terkait pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan, aspek pemberian  imunisasi campak. Sementara untuk perawatan di rumah pada anak yang sakit mendapatkan cairan yang lebih banyak dan melanjutkan pemberian makanan. Juga memastikan bahwa pembawa balita sakit harus mengetahui, minimal dua tanda kapan harus kembali segera membawa anaknya ke pelayanan kesehatan.

Referensi:
•    Depkes RI. (2000) Pedoman Manajemen Terpadu Balita Sakit.

 

 

Pelantikan Kepala Sudinkes Jakarta Timur 2013

Standard

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur saat ini mendapat Kepala Sudin yang baru, yaitu drg Yuditha, MKes, yang tadinya Kepala UPT Jamkesda. Sedangkan Ka Sudin kesehatan yang lama yaitu dr Safaruddin MARS pindah menjadi Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Pelantikan dilakukan pada tanggal 5 Juli 2013 ( Jum’at ) dan sertijab dilakukan pada hari Rabu, 10 Juli 2013.