Manajemen Terpadu Balita Sakit ( MTBS )

Standard

LATAR BELAKANG

  • Berdasarkan beberapa hasil penelitian, disebutkan bahwa di negara berkembang setiap tahun terjadi 12 juta kematian anak bawah lima tahun. 
  • Hampir 70 % penyebab kematian tersebut disebabkan oleh lima penyakit yaitu pneumonia, diare, malaria, campak, dan masalah gizi buruk.

STRATEGI MTBS

  • Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus
  • Memperbaiki dan meningkatkan dukungan sistem kesehatan
  • Meningkatkan kemampuan  keluarga & masyarakat dalam home care dan care seeking

Manajemen Terpadu Balita Sakit  ( MTBS ) adalah manajemen untuk menangani balita sakit yang bersifat terpadu yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan ( Depkes, 2000).

Terpadu berarti mencari dan mengobati dengan dipandu buku bagan MTBS untuk beberapa penyakit yang menyebabkan kematian bayi dan balita seperti pneumonia, diare, malaria, campak, gizi buruk dan masalah lainnya ke dalam satu episode pemeriksaan. Dimulai dari penilaian berupa pemeriksaan gejala dan tanda-tanda yang muncul, pembuatan klasifikasi, pemberian tindakan dan kemudian diakhiri dengan melakukan konseling.

INTERVENSI MTBS

  1. Kuratif
  2. Preventif
  3. Promotif

PROGRAM YANG TERLIBAT :

  • Gizi / nutrisi
  • Imunisasi
  • Pencegahan penyakit
  • Promosi tumbuh kembang
  • Tatalaksana kasus
  • Kesehatan Ibu

INDIKATOR MTBS
Menurut WHO dan UNICEF (1999), terdapat beberapa indikator pelaksanaan MTBS, antara lain indikator ketrampilan petugas, dukungan manajemen, dan indikator tingkat kepuasan pengantar terhadap pelayanan yang diberikan.

Indikator ketrampilan petugas, terdiri dari :

kemampuan untuk menilai empat tanda bahaya, pemeriksaan batuk, diare, dan demam, pemeriksaan berat badan dibandingkan dengan KMS, pemeriksaaan status imunisasi, menanyakan kepada pengantar terkait pemberian ASI dan makanan tambahan, memberikan terapi yang benar. Juga parameter konseling yang meliputi penentuan waktu merujuk, pemberian terapi antibiotika oral yang diresepkan secara benar, pemberian nasehat untuk memberi cairan tambahan dan meneruskan memberi makan, pemberian imunisasi yang dibutuhkan sebelum meninggalkan tempat pelayanan, dan pemberian pemahaman kepada pengantar tentang cara memberikan obat kepada anak sesuai petunjuk yang diberikan petugas.

Indikator adanya dukungan sistem kesehatan antara lain meliputi :

aspek supervisi dan observasi penanganan kasus dalam enam bulan terakhir, aspek ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan meliputi ketersediaan obat-obatan esensial, kecukupan obat injeksi dalam pertolongan sebelum dirujuk, kecukupan peralatan dan jenis vaksin yang dibutuhkan, serta aspek cakupan pelatihan MTBS.

Indikator kepuasan ibu balita atau pendampingnya, meliputi :

indikator gizi terkait pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan, aspek pemberian  imunisasi campak. Sementara untuk perawatan di rumah pada anak yang sakit mendapatkan cairan yang lebih banyak dan melanjutkan pemberian makanan. Juga memastikan bahwa pembawa balita sakit harus mengetahui, minimal dua tanda kapan harus kembali segera membawa anaknya ke pelayanan kesehatan.

Referensi:
•    Depkes RI. (2000) Pedoman Manajemen Terpadu Balita Sakit.

 

 

Advertisements

Pelantikan Kepala Sudinkes Jakarta Timur 2013

Standard

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur saat ini mendapat Kepala Sudin yang baru, yaitu drg Yuditha, MKes, yang tadinya Kepala UPT Jamkesda. Sedangkan Ka Sudin kesehatan yang lama yaitu dr Safaruddin MARS pindah menjadi Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Pelantikan dilakukan pada tanggal 5 Juli 2013 ( Jum’at ) dan sertijab dilakukan pada hari Rabu, 10 Juli 2013.

BATASAN DAN DEFINISI OPERASIONAL INDIKATOR PELAKSANAAN UKS

Standard

1. Sekolah terbentuk Tim Pelaksana UKS, adalah :

Apabila di sekolah sudah ada Tim Pelaksana UKS yang ditetapkan dengan SK Kepala             Sekolah, dengan struktur berdasarkan lampiran 1 Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta no 68/2003, dan ada program kerja yang melaksanakan Trias UKS.

2. Sekolah Melaksanakan UKS ( Paket Standar ), adalah :

Apabila dalam UKS telah ada kegiatan: membentuk Tim Pelaksana UKS dan ada kegiatan Penyuluhan Kesehatan Imunisasi ( di SD/MI), Kebersihan Pribadi, Kebersihan Lingkungan, Program Dokter Kecil / KKR, P3K/P3P, Screening Kesehatan Kelas I, Pemeriksaan Kesehatan Berkala ( TB/BB & Visus), UKGS tahap II, dan Pembinaan Warung Sekolah Sehat.

3. Sekolah ada Dana sehat UKS, adalah :

Apabila di sekolah secara rutin telah ada kegiatan  penggalangan dana atau sarana untuk kegiatan UKS,yang bersumber swadaya dari warga sekolah atas mufakat Komite Sekolah, dari TP UKS atau dari sumber lain yang syah.

4. Sekolah ada Warung Sekolah Sehat, adalah :

Apabila di sekolah telah ada warung sekolah yang memiliki ruang dan perlengkapan, sarana pencucian dengan air mengalir, tidak menggunakan bahan berbahaya serta ada pembinaan / pengawasan dari Tim Pelaksana UKS dalam aspek variasi gizi dan kesehatan dari makanan / minuman yang dijajakan.

5. Sekolah ada Ruang dan Perlengkapan UKS adalah :

Apabila di sekolah telah ada ruang khusus atau sudut UKS serta sarana administrasi dan pelayanan UKS yang dimanfaatkan dengan baik sesuai fungsinya.

6. Sekolah ada Program Dokter Kecil / Kader Kesehatan Remaja ( KKR ) adalah :

Apabila di sekolah sudah ada pelatihan kesehatan / UKS bagi peserta didik sesuai persyaratan dan modul pelatihan, yang berjumlah 10% dari jumlah peserta didik di sekolah, yang selanjutnya berperan sebagai Kader Kesehatan Sekolah / UKS.

7. Sekolah ada Program PMR adalah :

Apabila di sekolah sudah terlaksanan pelatihan Kepalangmerahan sesuai modul pelatihan dari PMI, serta aktivitas PMR sesuai fungsinya.

8. Sekolah ada Program Saka Bakti Husada ( SBH ) adalah :

Aoabila di sekolah telah ada anggota Pramuka yang berminat di bidang kesehatan, dan telah memperoleh pelatihan sesuai model 6 krida SBH.

9. Sekolah dengan kegiatan Penyuluhan Kesehatan adalah :

Apabila di sekolah sudah ada kegiatan pendidikan kesehatan dan penyuluhan secara berkala dalam menunjang upaya kesehatan / UKS.

10. Sekolah ada Guru UKS terlatih, adalah :

Apabila dalam kegiatan UKS di sekolah telah dibina dan digerakkan oleh Guru yang telah pernah mengikuti pelatihan UKS.

 

15 Masalah Kesehatan Akibat Merokok Yang Jarang Dipublikasikan

Standard

tubuh-perokokBerdasarkan penelitian banyak dampak kesehatan yang diakibatkan oleh rokok. berikut efek samping akibat rokok yang jarang dipublikasikan, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

 1. RAMBUT RONTOK. Rokok memperlemah sistem kekebalan, sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit seperti lupus erythematosus yang menyebabkan rambut rontok, sariawan mulut, dan erupsi cutan (bintik merah) diwajah, kulit kepala dan tangan.

 2. KATARAK. Merokok dipercaya dapat memperburuk kondisi mata. Katarak, yaitu memutihnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya yang dapat menyebabkan kebuataan, 40% terjadi pada perokok. Rokok dapat menyebabkan katarak dengan cara mengiritasi mata dengan terlepasnya zat-zat kimia di paru-paru yang oleh aliran darah dibawa sampai kemata.

 3. KULIT KERIPUT. Merokok dapat menyebabkan menuaan dini pada kulit karena rusaknya protein yang berguna untuk menjaga elastisitas kulit, terkikisnya vitamin A, dan terhambatnya aliran darah. Kulit perokok menjadi kering dan keriput terutama didaerah bibir dan mata.

 

4. KANKER KULIT. Merokok tidak menyebabkan melonoma, tetapi merokok dapat menyebabkan meningkatkan kemungkinan kematian akibat penyakit tersebut. Ditengarai bahwa perokok berisiko menderita cutaneus squamus cell kanker, sejenis kanker yang meninggalkan bercak pada kulit.

 5. HILANGNYA PENDENGARAN. Karena tembakau menyebabkan timbulnya endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menghambat laju aliran darah ke dalam telinga bagian dalam. Perokok dapat kehilangan lebih awal daripada orang yang tidak merokok atau lebih mudah kelihangan pendengaran karena infeksi pendengaran.

 6. OSTEOPOROSIS. Ada karbon monoksida, yaitu zat kimia beracun yang banyak terdapat pada gas buang mobil dan asap rokok lebih mudah terikat dalam darah dari oksigen, sehingga kemampuan udara untuk mengangkat oksigen turun 15% pada perokok, akibatnya tulang orang yang merokok kehilangan densitasnya menjadi lebih mudah patah/retak dan penyembuhannya 80% lebih lama.

 7. KARIES. Rokok mempengaruhi keseimbangan kimiawi dalam mulut, membentuk plak yang berlebihan, membuat gigi menjadi kuning, dan terjadi karies.

 8. EMPHYSEMA. Emphysema yaitu pelebaran dan rusaknya kantung udara oada paru yang menurunkan kapasitas paru-paru untuk menghisap oksigen dan melepaskan CO2.

 9. PENYAKIT JANTUNG. Satu diantara 3 kematian di dunia diakibatkan penyakit kardiovaskuler. pemakaian tembakau adalah salah satu faktor risiko terbesar untuk penyakit ini. Rokok menyebabkan denyut jantung lebih cepat, menaikkan risiko hipertensi dan penyumbatan arteri dan akhirnya menyebabkan serangan jantung atau stroke.

 10. KANKER. Asap rokok mengandung 40 macam zat karsinogen. Kemungkinan timbulnya kanker paru pada perokok 22 kali lebih besar; lidah, mulut, kelenjer ludah, dan pharynx 6-7 kali lebih besark; kanker kerongkongan 12 kali lebih besar, oesophagus 8-10 kali lebih besar (WHO, 2002).

 11. DISKLORI JARI-JARI. Tar yang terdapat pada asap rokok terakumulasi pada jari-jari dan kuku yang meninggalkan warna kuning dan kecoklatan.

 12. TUKAK LAMBUNG. Konsumsi tembakau menurunkan resistensi terhadap bakteri yang menyebabkan tukak lambung, juga meminimalisasi kemampuan lambung untuk menetralkan asam lambung setelah makan sehingga akan menggerogoti dinding lambung. Tukak lambung pada perokok lebih sulit disembuhkan.

 13. KANKER UTERUS. Merokok dapat meningkatkan risiko kaker servik dan uterus. kanker ini bisa disebabkan oleh nikotin yang ada dalam darah. Mengapa? Karena asap rokok yang masuk ke dalam tubuh akan segera menyebar ke seluruh tubuh. Zat nikotin yang ada dalam asap rokok tersebut akan memicu pertumbuhan sel tidak normal yang kemudian menjadi biang munculnya sel kanker mulut rahim.

 14. PSORIASIS. Berkembangnya psosiasis/inflamasi noncotageous pada kulit yang menyisakan bercak merah berair dan gatal 2-3 kali lebih besar terjadi pada perokok.

 15. PENYAKIT BEURGER. Penyakit yang juga dikenal dengan throaboanginosis obliteran ini adalah terjadinya inflamasi pada arteri vena dan syaraf utama kaki yang mengakibatkan terhambatnya aliran darah dan bila dibiarkan tanpa perawatan akan mengarah kepada gangren (matinya sel tubuh) sehingga pasien perlu diamputasi.

MARS UKS

Standard

 

Mars UKS
 
Satukan langkah menggapai cita
Usaha Kesehatan Sekolah
Kebersihan diri dan lingkungan dijaga
Buang segala sampah pada tempatnya

Berolahraga dengan teratur
Berbadan sehat dan berbudi luhur
Dengan menatap masa depan bangsa
Galakan UKS sepanjang masa

Tri Program UKS
Jadi landasan
Pendidikan, Kesehatan dilaksanakan
Pelayanan kesehatan
Kita terapkan
Lingkungan sekolah sehat
Ayo diwujudkan

UKS tumbuhkan siswa cerdas kuat
berjiwa tangguh bergaya hidup sehat
Sikap hormat pada guru dan orangtua
Beriman dan cinta sesama kita

 
aYOOOOOOO, hafalkan dan nanyikan dengan semangat, rasakan liriknya resapi maknanya !!!!

Ruang Lingkup Program dan Pembinaan UKS

Standard

A. RUANG LINGKUP PROGRAM UKS

Ruang lingkup UKS adalah ruang lingkup yang tercermin dalam Tiga Program Pokok Usaha Kesehatan Sekolah ( TRIAS UKS ), yaitu sebagai berikut :

1. Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan

  • Meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk senantiasa berperilaku hidup sehat
  • Penanaman perilaku/kebiasaan hidup sehat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar.
  • Pelatihan dan penanaman pola hidup sehat agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan di sekolah :

  • pelayanan kesehatan; termasuk Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja ( PKPR);
  • pemeriksaan penjaringan kesehatan peserta didik;
  • pemeriksaan berkala;
  • pengobatan ringan dan P3K maupun P3P;
  • pencegahan penyakit ( imunisasi; PSN; PHBS; Pendidikan Kecakapan Hidup Sehat atau Life Skills Education );
  • penyuluhan kesehatan dan konseling;
  • Usaha Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS );
  • pencatatan dan pelaporan tentang keadaan penyakit dan status gizi dan hal lainnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan;
  • rujukan kesehatan ke Puskesmas;
  • pengukuran tingkat kesegaran jasmani.

3. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat, baik fisik, mental, sosial maupun lingkungan :

  • Pelaksanaan 7K ( kebersihan, keindahan, kenyamanan, ketertiban, keamanan, kerindangan , kekeluargaan ).
  • Pembinaan dan pemeliharaan kesehatan lingkungan terasuk bebas asap rokok.
  • Pembinaan kerjasama antar masyarakat sekolah ( guru, murid, pegawai sekolah, orang tua murid dan masyarakat sekitar ).

B. RUANG LINGKUP PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN UKS

  1. Pendidikan Kesehatan;
  2. Pelayanan Kesehatan;
  3. Pemeliharaan lingkungan kehidupan sekolah sehat;
  4. Ketenagaan;
  5. Sarana prasarana;
  6. Penelitian dan pengembangan;
  7. managemen/organisasi;
  8. Monitoring dan evaluasi.